Berita Hawzah – Terkadang keselamatan bersembunyi di balik satu kalimat doa; pada sujud yang tulus dan tasbih di sunyi malam, pintu rahmat pun perlahan terbuka.
Ayatullah al-Udzma Jawadi Amuli dalam karya tafsirnya mengatakan:
Rahasia keselamatan Nabi Yunus (as) dari bahaya tetap tinggal di perut ikan hingga hari kiamat dikarenakan beliau termasuk ahli dzikir dan golongan orang-orang yang bertasbih: «فلولا أنّه کان من المسبّحین للبث فی بطنه إلی یوم یبعثون» "Maka sekiranya dia tidak termasuk orang yang banyak bertasbih (kepada Allah), niscaya dia akan tetap tinggal di perut (ikan itu) sampai hari kebangkitan." (QS. Ash-Shaffat: 143-144) Tasbih, seperti halnya tahmid, takbir, dan tahlil, termasuk dalam kategori zikir kepada Allah.
Zikir Nabi Yunus (as) hanyalah sebuah tasbih yang secara lahiriah tidak mengandung permohonan: «وذاالنون إذ ذهب مغاضباً فظنّ أن لن نقدر علیه فنادی فی الظلمات أن لاإله إلاّ أنت سبحانَک إنّی کنت من الظالمین فاستجبنا له ونجّیناه من الغمّ وکذلک ننجی المؤمنین», "Dan (ingatlah kisah) Zun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: ""Bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang lalim."" Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya daripada kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman." (QS. Al-Anbiya': 87-88)
Kalimat "لا إله إلاّ أنت سبحانک إنّی کنت من الظالمین" secara dhahir bukan sebuah doa (permohonan), sehingga tampak seolah-olah tidak termasuk dalam cakupan ayat mulia ini «وإذا سألک عبادی عنّی فإنّی قریب أُجیب دعوة الداع إذا دعانِ» "Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku" (QS. Al-Baqarah: 186), dan Allah mengabulkannya. Namun sejatinya, kalimat tersebut adalah doa dalam makna yang luas, karena mengandung permohonan yang tersirat. Ia merupakan zikir—sebuah pengakuan yang mengingat Allah dan menyeru-Nya—bukan sekadar permintaan semata.
Dikabulkannya (istijabah) zikir berbeda dengan dikabulkannya doa. Hal itu termasuk dalam makna firman Allah «فاذکرونی أذکرکم»,"Maka ingatlah Aku, niscaya Aku akan mengingat kalian" (QS. Al-Baqarah: 152). Jika seorang hamba mengingat Tuhannya, niscaya Allah Yang Mahasuci juga akan mengingatnya. Dan karena mengingat Allah adalah sifat fi'li-Nya, terkadang hal itu menjelma dalam bentuk rahmat: «ذکر رحمت ربّک عبده زکریا»,"(Ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhanmu kepada hamba-Nya, Zakaria" (QS. Maryam: 2).
Adab seorang hamba adalah senantiasa mengingat Allah (dzākir). Ketika ia tenggelam dalam munajat dan merasakan kelezatan kedekatan dengan Tuhannya hingga lupa pada kepentingan dirinya dan tidak mengajukan permintaan apa pun, Allah Yang Mahasuci sendiri yang akan memenuhi segala kebutuhannya. Karena Dia Maha Mengetahui kebutuhan seluruh makhluk dan tidak pernah lalai, sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya: «وما کان ربّک نسیّاً» "Dan Tuhanmu tidak pernah lupa." (QS. Maryam: 64)
Ketika Nabi Yunus (as) sangat membutuhkan pertolongan dan keselamatan, namun beliau tidak mengucapakn sesuatu apa pun selain tasbih. Ia menyucikan Allah dari segala kekurangan dan mengakui kekurangan pada dirinya sendiri: «لاإله إلاّ أنت سبحانک إنّی کنت من الظالمین» "Tiada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang lalim." (QS. Al-Anbiya': 87) Jika seorang makhluk yang membutuhkan hanya menyibukkan diri dengan zikir kepada Allah, tanpa meminta sesuatu pun, maka Allah Yang Mahasuci akan memberinya pengabulan yang tertinggi: «فاستجبنا له ونجّیناه من الغمّ» " Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya daripada kedukaan." (QS. Al-Anbiya': 88)
Pengabulan semacam ini tidak terbatas hanya bagi para nabi ‘alaihis salam, dan tidak hanya terjadi saat menghadapi kesulitan atau bahaya tertentu. Sesuai janji Allah, setiap orang beriman yang mengingat-Nya dengan zikir—sebagaimana zikir Nabi Yunus—akan diselamatkan dari kesedihan: «وکذلک ننجی المؤمنین» "Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman." (QS. Al-Anbiya': 88)
Sumber: Tafsir Tasnim, jilid 7, halaman 539-540, karya Ayatullah Jawadi Amuli.
Your Comment